Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Januari 2012

TEORI STRUKTURAL C. LEVI STRAUSS

METODE SEGITIGA KULINER
            Dalam buku-bukunya yang besar, mulai dari Les Structures Elementaires de la Parente. Levi-Strauss menguraikan berbagai macam unsure kebudayaan manusiadalam suatu metode analisa khas yang juga di ambilnya dari ilmu linguistic yangdisebutnya metode “segitiga kuliner(triangle culinaire). Metode itu diterapkannyaterhadap unsure makanan. Analisa itu dilakukannya beberapa kali dalam beberapakarangannya, yaitu Anthropologie structurale, karangannya yang khusus mengenaisegitiga kuliner yang kebetulan juga memakai analisa makanan sebagai contoh, bahkan ada karangannya, yaitu jilid I dari buku Mithologique, yang diberi judul LeCru et Le Cruit (1964), yang artinya “ hal yang mentah dan hal yang masak”.Menurut salah seorang komentatornya, E. Leach, sebab mengapa Levi-Strauss begitu banyak menaruh perhatian terhadap makanan rupa-rupanya disebabkan karenamakanan adalah kebutuhan almiah pokok dari binatang maupun manusia,karenamakanan manusia menjadi unsure kebudayaan yang diolah dengan api, yaitusalah satu unsure kebudayaan dan sumber energi manusia yang sangat dini. Itulahsebabnya unsure makanan paling cocok untuk mengilustrasikan perbedaan antara alam dan kebudayaan.
B.     ANALISA SISTEM KEKERABATAN
Seperti sikap ahli-ahli antropologi lain, Levi-Strauss jga banyak mempelajari masalahsrtuktur social dari system-sistem kekerabatan. Namun kecuali sebagai ahliantropologi yang secara konvensional seharusnya menaruh perhatian akan hal itu, ia juga tertarik akan analisa system-sistem kekerabatan untuk maksud lain yang khusus.Levi-Strauss dalam masa karir akademisnya ia menjadi seorang ahli filsafat, terutamaahli filsafat yang berfikir tentang masalah asas-asas cara berfikir simbolik darimanusia sebagai makhluk kolektif yang berinteraksi dalam masyarakat. Levi-Straussmenganggap ilmu antropologi sebagai ilmu yang dapat memberikan data etnografismengenai masyarakat primitive, yang dianggapnya perlu untuk mengembangkangagasan-gagasan dan konsep filsafatnya. Masyarakat bersahaja dianggap sebagaicontoh dari masyarakat eelementer, dan manusia yang kehidupan didalamnya tentu juga berpikir secara elementer, atau dengan istilahnya berpikir secara bersahaja.  
Masyarakat bersahaja biasanya didominasi oleh system kekerabatan, dan warga-warganya berinteraksi didalamnya berdasarkan system simbolik yang menentukansikap mereka terhadap paling sedikit tiga kelas kerabat, yaitu kerabat karena hubngan darah, karena hubungan kawin, dan karena hubungan keturunan. Dalam usahanya menganalisa segala macam system kekerabatan, seperti juga radcliffe-Brown, Levi-strauss, berpangkal kepada keluarga inti. Ketiga macam hubungan dalam rangka keluarga inti adalah:(1.) hubugan antara seorang individu E dengan saudara-saudara sekandungnya yang berup hubungan darah. (2) hubungan antara E dengan istrinya berupa hubungan karena kawin, yangmenghubungkan kelompok saudara sekandungnya dengan saudara sekandungistrinya. (3.) hubungan yang lain yaitu hubungan antara E dan istrinya dengan anak-anak mereka, yang merupakan hubungan keturunan.Dalam kenyataan, kehidupan kekerabatan yang oleh Levi-Strauss dianggap hubugan positif adalah hubungan berdasarkan sikap bersahabat, mesra, dan cinta- mencintai,sedangkan apa yang dianggapnya hubungan negative adalah hubungan berdasarkan sikap sungkan, resmi, dan menghormati. Kedua hipotesis tadi secara logikamemungkinkan enam kombinasi yang olehnya di ilustrasikan dengan data dari menamsuku bangsa, yaitu suku bangsa tobrian yang telah dideskripsi oleh Malinowski, bangsa-bangsa Siuai fdi Kepulauan Solomon, Melanesia, suku bangsa dobu dikepulauan dekat trobrian, suku-suku bangsa kobutu di Papua Nugini, suku bangsacherkess, suku bangsa Tonga di Polynesia. Kalau kita teliti data etnografi Levi- Strauss lebih mendalam, maka tampak subyektifnya ia meniai suatu hubungan kekerabatan itu sebagai positif atau negative,dan tampak pula bahwa tidak jarang ia membawa ukuran kebudayaan sendiri, yaitukebudayaan perancis, untuk membuat penilaian tadi. Kecuali itu, dari data keenamsuku bangsa itu menerut metodologi penelitian Levi-stauss sebenarnya belum membuktikan kebenaran dari kedua hipotesanya itu, karena ia hanya memilih enam contoh saja untuk mengilustrasikan tiap kemungkinan kombinasi sikap antara kaumkerabat inti yang mungkin ada.
C.     
KKONSEP STRUKTURALISME LEVI STRUS

Cakupan ilmu sosial sangat luas. Hal ini disebabkan banyaknya persoalan yang timbul dalam aktivitas manusia baik secara individu maupun dalam kaitannya dengan masyarakat. Oleh karena begitu kompleknya persolan itu, sangat tidak mungkin bisa memahami fenomena sosial tampa mengaitkan dengan fenomena-fenomena lain. Inilah yang menjadikan salah satu alasan kenapa dalam ilmu sosial kita harus meniru metode ilmu-ilmu di luar ilmu sosial; seperti ilmu eksata dan pengetahuan alam (exact and natural Sciences). Dari rangkaian persoalan manusia itu terdapat beberapa kesamaan yang bisa dijadikan model dalam sebuah penelitian. Allen Lane menyatakan sebagai berikut; On the other hand, studies in social structure have to do with the formal aspects of social phenomena; they are therefore difficult to define, and still more difficult to discuss, without overlapping other fields pertaining to the exact and natural sciences, where problems are similarly set in formal terms or, rather, where the formal expression of different problems admits of the same kind of treatment.
Dalam konsep Strukturalisme Levi-Strauss struktur adalah model-model yang dibuat oleh ahli antropologi untuk memahami atau menjelaskan gejala kebudayaan yang dianalisisnya. Yang tidak ada kaitannya dengan fenomena empiris kebudayaan itu sendiri.
Meskipun bertolak pada linguistik, fokus strukturalisme Levi-Strauss sebenarnya bukan pada makna kata, tetapi lebih menekankan pada bentuk (pattern) dari kata itu. Bentuk-bentuk kata ini menurut Levi-Strauss berkaitan erat dengan bentuk atau susunan sosial masyarakat. Sarah Schmitt (1999) menyatakan, “Levi-Strauss derived structuralism from school of linguistics whose focus was not on the meaning of the word, but the patterns that the words form.” Strukturalisme Levi-Strauss juga bertolak dari konsep oposisi biner (binary opposition). Konsep ini dianggap sama dengan organisasi pemikiran manusia dan juga kebudyaannya. Seperti kata-kata hitam dan putih. Hitam sering dikaitkan dengan kegelapan, keburukan, kejahatan, sedangkan putih dihubungkan dengan kesucian, kebersihan, ketulusan dan lain-lain. Contoh lain adalah kata rasional dan emosional. Rasional dianggap lebih istimewa dan diasosiasikan dengan laki-laki. Sementara emosional dianggap inferior yang diasosiasikan dengan perempuan.
Untuk mengetahui makna struktur dalam bidang antropologi Levi-Strauss, perlu diketahui terlebih dahulu prinsip dasar dari struktur itu sendiri. Prinsip dasar struktur yang dimaksud disini adalah bahwa struktur sosial tidak berkaitan dengan realitas empiris, melainkan dengan model-model yang dibangun menurut realitas empiris tersebut (Levi-Strauss, 1958; 378). Bangunan dari model-model itu yang akan membentuk struktur sosial.
Menurut Levi-Strauss (1958) ada empat syarat model agar terbentuk struktur sosial;
1.      Sebuah struktur menawarkan sebuah karakter sistem. Struktur terdiri atas elemen-elemen seperti sebuah modifikasi apa saja, yang salah satunya akan menyeret modifikasi seluruh elemen lainnya.
2.      Seluruh model termasuk dalam sebuah kelompok transformasi, di mana masing-masing berhubungan dengan sebuah model dari keluarga yang sama, sehingga seluruh transformasi ini membentuk sekelompok model.
3.      Sifat-sifat yang telah ditunjukan sebelumnya tadi memungkinkan kita untuk memprakirakan dengan cara apa model akan beraksi menyangkut modifikasi salah satu dari sekian elemennya.
4.      Model itu harus dibangun dengan cara sedemikian rupa sehingga keberfungsiannya bisa bertanggung jawab atas semua kejadian yang diobservasi.


Bagi Levi-Strauss telaah antropologi harus meniru apa yang dilakukan oleh para ahli linguistik. Levi-Strauss memandang bahwa apa yang ada di dalam kebudayaan atau perilaku manusia tidak pernah lepas dari apa yang terefleksikan dalam bahasa yang digunakan. Oleh karena itu akan terdapat kesamaan konsep antara bahasa dan budaya manusia. Singkatnya Levi-Strauss berkeyakinan bahwa untuk mempelajari kebudayaan atau perilaku suatu masyarakat dapat dilakukan melalui bahasa. Istilah kekerabatan, seperti halnya fonem, merupakan unsur makna; dan seperti fonem, kekerabatan memperoleh maknanya hanya dari posisi yang mereka tempati dalam suatu sistem. Kesimpulannya adalah bahwa “meskipun mereka berasal dari tatanan relitas yang lain, fenomena kekerabatan merupakan tipe yang sama dengan fenomena linguistik.
Ahimsa menyebutkan bahwa ada beberapa pemahaman mengenai keterkaitan bahasa dan budaya menurut Levi-Strauss. Pertama, bahasa yang digunakan oleh suatu masyarakat merupakan refleksi dari keseluruhan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. Kedua, menyadari bahwa bahasa merupakan salah satu unsur dari kebudayaan. Karena bahasa merupakan unsur dari kebudayaan maka bahasa adalah bagian dari kebudayaan itu sendiri. Hal ini dapat kita lihat juga pendapat para pakar kebudayaan yang selalu menyertakan bahasa sebagai unsur budaya yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Untuk itu jika kita membahas mengenai kebudayaan kita tidak pernah bisa lepas dari pembahasan bahasa. Ketiga, menyatakan bahwa bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan. Dengan kata lain melalui bahasa manusia mengetahui kebudayaan suatu masyarakat yang sering disebut dengan kebudayaan dalam arti diakronis. Dengan bahasa manusia menjadi makhluk sosial yang berbudaya. Yang kedua, bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan karena material yang digunakan untuk membangun bahasa pada dasarnya memiliki kesamaan jenis atau tipe dengan apa yang ada pada kebudayaan itu sendiri.
Pemahaman kita akan adanya struktur dalam setiap benda atau aktivitas manusia memudahkan identivikasi benda atau aktivitas tersebut. Hal yang perlu diperhatikan dalam strukturalisme adalah adanya perubahan pada struktur tersebut. Perubahan yang terjadi dalam suatu struktur disebut dengan transformasi (transformation). Transformasi harus dibedakan dari kata perubahan yang berarti change. Karena dalam proses transformasi tidak sepenuhnya berubah. Hanya bagian-bagian tertentu saja dari suatu struktur yang mengalami perubahan sedangkan elemen-elemen yang lama masih ada.

»»  Baca Lengkap...

Jumat, 04 November 2011

Islam & Sosialisme ; H.O.S. Tjokroaminoto


“Bagi kita, orang Islam, tak ada sosialisme atau rupa-rupa “isme” lain-lainnya, yang lebih baik, lebih elok dan lebih mulia, melainkan sosialisme yang berdasar Islam itulah saja” (HOS Tjokroaminoto)
Dasarnya Sosialisme Islam
“Kaanannasu ummatan wahidatan”
Peri-kemanusiaan adalah menjadi satu persatuan”, begitulah pengajaran di dalam Qur’an yang suci itu, yang menjadi pokoknya sosialisme. Kalau segenap peri-kemanusiaan kita anggap menjadi satu persatuan, tak boleh tidak wajiblah kita berusaha akan mencapai keselamatan bagi mereka semuanya.
Ada lagi satu sabda Allah di dalam Al Qur’an memerintahkan kepada kita, bahwa kita “harus membikin perdamaian (keselamatan) diantara kita”. Lebih jauh di dalam al Qur’an ada dinyatakan, bahwa “kita ini telah dijadikan dari seorang-orang laki-laki dan seorang-orang perempuan” dan “bahwa Tuhan telah memisah-misahkan kita menjadi golongan-golongan dan suku-suku, agar supaya kita mengetahui satu sama lain”.
Nabi kita Muhammad s.a.w. telah bersabda, bahwa “Tuhan telah menghilangkan kecongkakan dan kesombongan di atas asal turunan yang tinggi. Seorang Arab tidak mempunyai ketinggian atau kebesaran yang melebihi seorang asing, melainkan barang apa yang telah yakin bagi dia karena takut dan baktinya kepada Tuhan”. Bersabda pula Nabi kita s.a.w. bahwa “Allah itu hanyalah satu saja, dan asalnya sekalian manusia itu hanyalah satu, mereka ampunnya agama hanyalah satu juga”.
Berasalan sabda Tuhan dan sabda Nabi yang saya tirukan ini, maka nyatalah, bahwa sekalian anak Adam itu ialah anggotanya satu badan yang beraturan (organich lichaam), karena mereka itu telah dijadikan dari pada satu asal. Apabila salah satu anggotanya mendapat sakit, maka kesakitannya itu menjadikan rusak teraturnya segenap badan (organisme).
Barang apa yang telah saya uraikan ini, adalah saya pandang menjadi pokoknya sosialisme yang sejati, yaitu sosialisme cara Islam (bukan sosialisme cara Barat).
Akan menunjukkan, bahwa agama Islam itu sungguh-sungguh menuju perdamaian dan keselamatan, maka di dalam bab ini baiklah saya uraikan maknanya perkataan “Islam”. Adapun makna ini adalah empat rupa:
  1. Islam –menurut pokok kata “Aslama” –maknanya: menurut kepada Allah dan kepada utusannya dan kepada pemerintahan yang dijadikan dari pada umat Islam. (“Ya ayyuhalladzina amanu athi’ulloha wa’athi urrosula waulilamri minkum”)
  2. Islam –menurut pokok kata “Salima” –maknanya: selamat. Tegasnya: apabila orang dengan sungguh-sungguh menjalankan perintah-perintah agama Islam, maka tak boleh tidak ia akan mendapat keselamatan di dunia dan keselamatan di akhirat, karena orang Islam itu harus bertabi’at selamat, begitulah menurut hadist sabda Nabi kita yang suci Mohammad s.a.w.: “Afdhalul mukminina islaman man salimal muslimuna min lisanihi wayadihi”, artinya: orang mukmin yang teranggap utama dalam pada menjalankan agama Islam, ialah mereka yang mempunyai tabi’at selamat yang menyelamatkan sekalian orang Islam, karena dari pada bicaranya dan tangannya.
  3. Islam, menurut pokok-kata “Salmi” –maknanya: rukun. Tegasnya: orang yang menjalankan agama Islam haruslah rukun. (An aqimuddina wala tatafarraq fiha”, artinya: Hendaklah (kamu) mendirikan agama (Islam) dan janganlah (kamu) sama berselisihan.
  4. Islam, menurut pokok-kata “Sulami”– maknanya: tangga, ialah tangga atau tingkat-tingkat untuk mencapai keluruhan dunia dan keluruhan akhirat. Jikalau orang Islam dengan sungguh-usngguh menjalankakn agamanya, maka tak boleh tidak mereka akan mencapai derajat yang tinggi sebagai yang telah di jalankan oleh khulafaurrasyidin.
Dasarnya Perintah-perintah Agama yang Bersifat Sosialistich
Dalam pada mengarangkan perintah-perintah yang berhubungan dengan jalannya ibadah, maka Nabi kita Muhammad s.a.w., ialah pengubah terbesar tentanghal-ikhwal pergaulan hidup manusia bersama (sociale Hervormer) yang terkenal oleh dunia, tiadalah melupakan asas-asas demokrasi tentang persamaan dan persaudaraan dan juga asas-asas sosialisme.
Menurut perintah-perintah agama yang telah ditetapkan oleh Nabi kita, maka sekalian orang Islam, kaya dan miskin, dari rupa-rupa bangsa dan warna kulit, pada tiap-tiap hari Jum’at haruslah datang berkumpul di dalam masjid dan menjalankan shalat dengan tidak mengadakan perbedaan sedikitpun juga tentang tempat dan derajat, di bawah pimpinannya tiap-tiap orang yang dipilih di dalam perkumpulan itu. Dua kali dalam tiap-tiap tahun sekalian penduduknya satu kota atau tempat, datanglah berkumpul akan menjalankan shalat dan berjabatan tangan serta berangkul-rangkulan satu sama lain dengan rasa persaudaraannya. Dan akhirnya tiap-tiap orang Islam diwajibkan satu kali di dalam hidupnya akan mengunjungi Mekah pada waktu yang telah ditentukan, bersama dengan berpuluhdan beratus ribu saaudaranya Islam.
Di dalam kumpulan besar ini, beribuan mereka yang datang dari tempat yang dekat tempat yang jauh sama bertemuan disatu tempat pusat, semuanya sama berpakaian satu rupa yang sangat sederhana, buka kepala dan kaki telanjang, orang-orang yang tertinggi dan terendah derajatnya dari rupa-rupa negeri dan tempat, rupa-rupa pula bangsa dan warna kulitnya; kumpulan besar yang kejadian pada tiap-tiap tahun ini adalah satu pertunjukan sosialme cara Islam dan ialah contoh besar dari pada “persamaan” dan “persaudaraan”. Di dalam kumpulan ini tidak menampak perbedaan sedikitpun juga diantara seorang raja dengan hambanya. Hal inilah bukan saja menanam tetapi juga melakukan (mempraktekkan) perasaan, bahwa segala manusia itu termasuk bilangannya satu persatuan dan diwajibkan kepada mereka itu akan berlaku satu sama lain dengan persamaan yang sempurna sebagai anggota-anggotanya satu persaudaraan.
Kumpulan besar yang kejadian pada tiap-tiap tahun ini bukan saja menunjukkan persamaan harga dan persamaan derajat diantara orang dengan orang, tetapi juga menunjukkan persatuan maksud dan tujuan pada jalannya segenap peri-kemanusiaan. Berpuluh ribu orang laki-laki dan perempuan, tua dan muda, datang di lautan pasir itu dengan segala kemudaratan di dalam perjalannya, hanyalah dengan satu maksud yaitu akan menunjukkan kehormatan dan kepujiannya kepada satu Allah, yang meskipun mereka bisa mendapatkan dimana-mana tempat dan pada tiap-tiap saat, tetapi kecintaan mereka kepada Allah itu diperumumkan di dalam satu kumpulan bersama-sama sebagai Tuhan mereka bersama, ialah Tuhan yang mencinta mereka semuanya –Rabbil ‘alamin. Cita-cita yang terlahir di dalam kumpulan besar ini ialah guna menunjukkan pada waktu yang bersama akan keadaan lahir yang membuktikan persaudaraan bersama dan rasa cinta-mencinta di dalam batin, agar supaya di dalam rohnya tiap-tiap orang Islam tertanamlah cita-cita bersal dari satu Tuhan dan cita-cita persaudaraan diantara manusia dengan manusia.
Sosialisme di dalam Islam bukan saja diajarkan sebagai teori, tetapi dilakukan (dipraktikkan) juga sebagai wajib.
Kedermawanan Cara Islam
Nabi kita menyuruh kita berlaku dermawan dengan asas-asas yang bersifat sosialis. Sedang Quran berulang-ulang menyatakan, bahwa memberi sedekah itu bukannya bersifat kebajikan, tetapi bersifat satu wajib yang keras dan tidak boleh dilalaikannya. Kecuali yang lain-lainnya, maka tentang pemberian sedekah itu Allah ta’ala ada bersabda di dalam Quran beginilah maksudnya:
“Kamu tidak pernah akan dapat mencapai keadilan, kecuali apabila kamu telah memberikan daripada apa yang kamu cintai; dan Tuhan mengetahui apa yang kamu berikan itu”.
Di satu tempat yang lain, Allah ta’ala bersabda di dalam Quran begini maksudnya:
“Barang siapa memberi sedekah dari pada kekayannya, guna membuat lebih suci dirinya. Dan tidak supaya kebajikannya akan diberi upahan. Tetapi barang siapa memberikan kekayannya untuk keperluan perkaranya dia punya Tuhan, yaitu Tuhan yang Maha luhur. Dan kemudiannya tidak boleh tidak dia akan bersenang dengan dia punya upahan”.
Masih ada lagi lain-lain perintah Tuhan yang mewajibkan kita memberi sedekah dari pada kekayaan kita. Satu dua sabda Nabi kita, yang menunjukkan sifat sosialis yang terkandung di dalam aturan pemberian sedekah, adalah seperti yang berikut:“Sekalian makhluk Tuhan adalah Tuhan ampunnya keluarga dan ialah yang sangat berbakti (percaya) kepada Tuhan yaitu barang siapa berusaha berbuat sebanyak-banyaknya kebajikan kepada makhluk Tuhan”.
“Memberi sedekah adalah satu wajib bagi kamu. Sedekah hendaklah diberikan oleh orang kaya diberikan kepada orang miskin”.“Siapakah yang sangat dikasihi oleh Tuhan? Yaitu barang siapa mendatangkan sebesar-besarnya kebaikan bagi makhluk Tuhan”.
Sepanjang pengetahuan saya, maka hanyalah Nabi kita itu saja pemberi wet yang telah menetapkan ukuran besar-kecilnya kedermawanan yang berupa sedekah. Sepanjang kemauan Islam maka sedekah ada dua macamnya, yaitu sedekah yang bergantung dari kemauannya pemberi, dan sedekah yang diwajibkan, ialah zakat namanya. Menurut perintah Tuhan di dalam Al Qur’an maka zakat haruslah diberikan kepada delapan golongan manusia: 1. Orang-orang fakir; 2. Orang-orang miskin; 3. ‘Amil, yaitu orang-orang yang diserahi pekerjaan mengumpulkan dan membagi zakat; 4. Mu’amalah kulubuhum (mereka yang hatinya harus dilembekkan akan menurut kepada agama Islam), yakni orang-orang yang meskipun sudah masuk agama Islam, tetapi kerajinannya kepada agama masih lembek, atau orang-orang ternama yang boleh melakukan pengaruh di atas masuknya lain-lain orang kepada agama Islam; 5. Buat membeli lepas orang-orang budak belian. 6. Orang-orang berhutang yang tidak berkuasa membayar hutang itu, yakni hutang untuk keperluan ke-islaman; 7. Orang-orang yang melakukan perbuatan untuk memajukan agama Tuhan dan 8. Orang-orang bepergian, yang tidak akan dapat menyampaikan maksud perginya kalau tidak dengan pertolongannya sesama orang Islam.
Adapun besarnya zakat adalah ditentukan sekian, sehingga apabila segenap peri-kemanusiaan menurut hukum Islam tentang zakat, ditambah pula dengan kedermawanan yang lain-lainnya sebagai yang dikehendaki oleh Islam, maka di dunia kita akan datanglah peri-keadaan sosialisme, peri-keadaan sama rata sama rasa, ialah peri-keadaan selamat.
Maksudnya melakukan perintah tentang kedermawanan di dalam wet Islam, ternyata ada tiga rupa, yang mana masing-masing sama mempunyai dasar sosialis.
  1. Akan membangun rasa ridha mengorbankan diri dan rasa melebihkan keperluan umum dari pada keperluan diri sendiri. “Lebih baik mati sendiri, tetapi janganlah membiarkan lain orang mati karena kelaparan”, –inilah rupanya yang telah menjadi pokoknya cita-cita.
  2. Akan membahagi kekayaan sama-rata di dalam dunia Islam. Dengan lantaran menjadikan peberian zakat sebagai salah satu rukun Islam, adalah dikehendaki; supaya umpamanya ada orang mendapat tinggalan warisan harta-benda yang besar, orang-orang yang miskin dan kekurangan akan mendapat bahagian dari pada kekayaan itu.
  3. Akan menuntun persaan orang, supaya tidak anggap kemiskinan itu satu kehinaan, supaya orang anggap kemiskinan itu ada lebih baik dari pada kejahatan. Sekalian orang suci dalam Islam sukalah menjadi miskin, sedang kita punya Nabi yang mulia itu sendiri telah berkata: “Kemiskinan itu menjadikan besar hati saya”. (Al Fakir fakhri).
Dasar sosialistik yang tersebut ketiga ini perlu sekali ditanamkan dalam hati orang dalam pergaulan hidup bersama antara bangsa Arab pada zaman dulu, karena banyaklah diantara mereka yang congkak di atas asal-turunan dan peri-keadaan yang asal dari nenek moyangnya, tetapi lebih perlu pula sekarang ini ditanamkan dalam hatinya orang-orang bangsawan dan hartawan dalam pergaulan hidup bersama pada zaman sekarang.

Persaudaraan Islam
Islam adalah sebenar-benarnya satu agama yang bersifat demokratis dan telah menetapkan beberapa banyak hukum yang bersifat demokratis bagi orang-orang yang memluk dia. Islam menentukan persaudaraan yang harus dilakukan benar-benar diantara orang-orang Islam di negeri yang mana pun juga, baik yang berkulit merah ataupun berkulit kuning, berkulit putih atau hitam, yang kaya atau yang miskin. Persaudaraan Islam sangatlah elok dan indah sifatnya. Ia dapat menghilangkan permusuhan yang asal dari turun-turunan yang sudah berabad lamanya; orang asing dijadikannya sahabat karib dan persahabatannya itu lebih kuat dari pada perhubungan saudara yang asal dari darah.
Persaudaraan Islam sampai pada tingkat yang tinggi sekali, yaitu terbukti: sepeninggalnya Nabi Muhammad s.a.w. pimpinan Republik Arab tidak diberikan kepada kaluarganya yang terdekat dan tercinta, tetapi diberikan kepada salah seorang sahabtnya. Isalm telah menghapuskan perbdaan karena bangsa dan karena kulit sampai begitu luasnya, sehingga beberapa orang Abyssine yang “hitam kulitnya” telah menjadi pemimpin yang sangat terhotmat diantara orang-orang Islam, sedang tiga orang anggota yang sangat ternama dari pada pergaulan hidup Islam bersama –yaitu Hasan, Bilal dan Suhail masing-masing berasal dari Basrah, Habash, (Abyssine) dan Rum (Tuki di Azie) –ketiganya ini berbeda-beda juga warna kulitnya. Islam membunh perbedaan karena kaste dan karena klas begitu sempurna, sehingga orang-orang budak belian telah dijadikan komandan dari bala-tentara Islam memerintah di atas orang-orang dari asal turunan yang tinggi dan tinggi pula derajatnya. Perkawinan antara budak belian dengan orang merdeka yang ternama dirayakan dengan seharusnya, dan anak-anak yang terlahir dari pada mereka dihormat satu rupa juga sebagai anak-anak turunan bangsawan.
Di Hindustan adalah beberapa raja pada dulu-kala yang asal turunan dari orang-orang budak belian. Diantara yang lain-lainnya, maka raja Kutubuddin yang ketika masih anak-anak menjadi budak belian, telah memerintahkan negeri yang amat besar dengan segala kebijaksanaan. Beberapa orang dari pada raja-raja yang tersebut itu, ialah pemimpin yagn sangat bijaknya dan mashur karena tinggi pelajarannya.
Menara Kutub Minar di kota Delhi (Hindustan), yang didirikan oleh raja yang pertama-tama asal budak belian di Hindustan pada permulaan abad yang ke 13, sekarang ini masih berdiri sebagai protes terhadap kepada pengarang-pengarang bangsa Eropa yang dengan buta-tulinya senantiasa membusuk-busukkan aturan budak belian Muslim. Kutub Minar itulah satu tanda peringatan yang gagah menunjukkan betapa besar jasanya Islam kepada orang-orang budak Islam.

»»  Baca Lengkap...

Senin, 10 Oktober 2011

Tradisi di Bulan Syawal di Desa Klagenserut (Madiun)


Tradisi ini mungkin hampir di kota madiun sama dan bahkan di jawa timur hampir sama, dikarenakan setiap penulis keliling dan bertanya perdaerah sama. Tradisi syawalan di desa penulis adalah dimulai pada malam 1 syawal, seluruh masyarakat Islam pasti bahagia dan merayakannya, tapi tiap personil tentu beda. Kebanyakan masyarakat seperti biasa ada yang takbir keliling menggunakan mobil piekep maupun motor pribadi secara rombongan. Hal ini dilakukan untuk memeriahkan jalanan. Tapi ada pula yang memeriahkan masjid maupun mushola. Sambil takbiran mereka sambil memegang alat musik supaya takbiran lebih rame dan meriah.
            Pada waktu tanggal 1 syawal pagi suasana begitu rame dan khusuk. Mereka berbondong-bondong menuju masjid untuk melaksanakan sholat Idul Fitri. Karena sholat ini tahunan dan yang mudik berdatangan didesa kami maka masjid begitu ramainya samapai masjid desa tidak cukup, banyak juga yang sholat di luar-luar. Tapi suasana begitu khusuknya. Setelah sholat kami mengadakan syukuran karena telah sempurna menjalankan puasa di bulan Romadhon dan masih bisa melaksanakan Sholat Idul Fitri. Tapi syukuran ini tidak semua kalangan masyarakat mau. Mereka kebanyakan memilih langsung pulang untuk syukuran dirumah masing-masing. Setelah melaksanakan syukuran kami pulang dan melaksanakan trdisi yaitu bermaaf-maafan sama keluarga. Hal ini dilakukan dan sudah menjadi tradisi. Kemudian desa kami kalau siang sampai sore kebanyakan keliling ke sanak famili dan malam baru beramai-ramai ke tetangga yang dianggap dituakan oleh masyarakat di desa kami.
            Tradisi keliling mulai sepi pada waktu H+4. Setelah H+4 kebiasaan myarakat dikota madiun mengadakan halal-bihalal dengan sanak keluarga maupun rekan kantor. Pada waktu itu tradisi demikian waktunya.terkadang penulis bisa menghadiri halal-bihalal keluaga.
            Pada waktu H+7 hal ini malai diminati. Dikarenakan waktunya ketupap bermunculan. Baik buat sendiri maupun dikasih tetangga sebelah maupun sanak famili. Syukuran lebaran ketupat biasanya dilakukan pagi hari setelah ibadah sholat shubuh tapi terkadang pula dilakukan setelah sholat magrib. Syukuran tersebut tapi dihadiri oleh sedikit jamaah sholat magrib. Hal ini dikarenakan yang mudik sudah banyak yang balik kedaerah  masing-masing. Akkhirnya diadakan oleh masyarakat seadanya. Dan acara tetap khusuk dan berjalan dengan khidmah.
            Setelah lebaran ketupat trdisi Idul Fitri sudah selesai. Dan kegiatan masyarakat berjalan seperti biasanya. Mungkin Cuma itu cuplikan tradisi kami. Penulis kira dimanapun intinya sama trdisi dimanapun tujuannya adalah untuk mengikat tali silaturahmi dan persaudaraan. Dan kritik saran yang membangun sangat diharapkan oleh penulis.
»»  Baca Lengkap...

TRADISI KONDANGAN DI PEDESAAN MADIUN


Kali ini penulis akan menerangkan tradisi kondangan di madiun. Mungkin di agak aneh kedengarannya, hal itu dikarenakan kondangan kalau diartikan secara istilah dan di pisah yaitu kon= ayo dang= cepat ngan= mangan. Hal itu kalau digabungkan dan secara bahasa yaitu menyuruh datang kerumah untuk melakukan kunjungan dan disuruh makan. Dan makan kalau di kondangan adalah perkara wajib karena pasti ada makanan datang, entah udah kenyang ataupun belum pasti makan.dan setelah selesai acara dibungkusi makanan lagi. Maka hal itu masyarakat madiun menamakan dengan kondangan.
            Tradisi kondangan berasal dari masyarakat yang suka kumpul-kumpul dirumah orang untuk melakukan ritual jejawi. Akhirnya para kyai masuk dan mlai menyebarkan Islam dan akhirnya trdisi tersebut dikolaborasikan dengan Islam. Para kyai tidak langsung membuang begitu saja tradisi itu dan kemudian trdisi kumpul sambil bercanda ria dengan tetangga tetap ada dan ditambah dengan ritual do’a bareng yang langsung dipimpin oleh kyai desa.
            Lambat laun tradisi ini mulai membumi dan lama-kelamaan meluas dan ada pula yang menyebutnya syukuran. Dikarenakan mengadakan acara tersebut sekarang pasti ada hajatan tersendiri seperti khitanan, mau malakukan nikah, dilimpahkan rejeki, dll. Pokoknya kalau penduduk desa yang mendapatkan nikmat entah orang kaya maupun miskin bisa malakukan kondangan. Dan lambat laun acara kematian pun ada pula kirim do’a dengan diselingi kondangan. Dan acara ini penuh sakralitas karena pada waktu acara dimulai semua begitu terlihat khusuk berdo’a.
            Sebenarnya tradisi ani mempunyai tujuan dan tujuannya sangat banyak sekali. Diantara lain adalah masyarakat pedesaan rata-rata tidak individualisme karena mereka mau membuka diri dan mau berbagi dengan diselingi tertaawa dan bercanda bareng jadi bisa membawa suasana lebih akrab. Karena yang masak biasanya tidak hanya pemilik rumah dan hal itu bisa mengundang tetangga dan hal itu juga menambah keakraban ibu-ibu. Karena tradisi ini diselipi juga dengan doa bareng jadi bisa saling mengingatkan dalam hal takwa sekalian berdakwah didalamnya. Selain itu juga dalam tradisi NU kalau berdoa pasti dikabulkan apalagi kalau banya orang maka lebih mudah dikabulkan oleh Allah. Kalau palang pasti bawa oleh- oleh berupa makanan hal itu bisa membahagiakan orang yang belum makan dan juga bisa makan enak karena ada unsur barokah do’a didalamnya. Mungkin sebenarnya masih banyak lagi guna dan tujuannya yang tidak bisa disebutkan penulis lebih luas lagi.
            Dan penulis rasa traadisi ini sekarang sudah meluas tidak hanya dipedesaan saja dan sudah mulai masuk ke perkotaan. Tapi dengan cara yang agak berbeda tappi mempunya tujuan yang sama. Hal ini pernah menghadiri acara kondangan dikota kalau di pedesaan kmakanan yang disuguhkan bersifat seadanya dan kalau di perkotaan kebanyakan bersifat mewah jadi yang mengadakan acara ini ha nya orang kaya. Beda dengan pedesaan miskin pun bisa melaksanakan acara ini karena bersikap sseadanya dan asensi tujuan utamanya bukan makanannya tappi terletak pada kumpulnya. Itu yang membuat rame dan lebih menyatu di desa daripada dikota dan di kotan tetap gengsi tetap ada kalau yang disuguhkan seadanya.
            Mungkin cukup ini tradisi kondangan yang bisa dipaparkan oleh penulis. Hal ini dikarenakan info yang penulis tulis dari tradisi lisan yang sering diperbincangkan pada waktu kondangan itu sendiri. Dan penulis rasa jauh dari sempurna yang bisa dipaparkan penulis. Karena penulis tidak melakukan penguatan data kembali di desa setempat di Madiun. 
»»  Baca Lengkap...

Jumat, 03 Juni 2011

H.O.S COKROAMINOTO

PEMBAHASAN

A. Biografi

H.O.S Cokroaminoto adalah anak kedua dari 12 bersaudara. Ayahnya bernama R.M. Tjokroamiseno, salah seorang pejabat pemerintahan pada saat itu. Kakeknya, R.M. Adipati Tjokronegoro, pernah juga menjabat sebagai bupati Ponorogo.

.
H.O.S Cokroaminoto, dilahirkan didesa Bakur, daerah Madiun pada tanggal, 20 Mei 1883. Tepat pada waktu Gunung Krakatau meletus. Tamat sekolah rendah ia meneruskan pelajarannya ke OSVIA Magelang, tamat pada tahun 1902 dan menjadi juru tulis sampai 1095. Antara tahun 1907 – 1910 bekerja pada Firma Coy & CO di Surabaya, disamping meneruskan pada Burgelijek Avondschool bagian mesin. Bekerja sebagai masinis pembantu, kemudian ditempatkan dibagian kimia pada pabrik gula di kota tersebut ( 1911 – 1912 ).

H.O.S Cokroaminoto buyutnya adalah seorang ulama’ terkenal di Ponorogo dan memiliki pesantren di daerah tegalsari, Beliau terlahir di keluarga priyayi yang religius, beliau sejak kecil diasuh dalam keluarga yang mendapatkan pendidikan Islam, dan menempuh pendidikan dasarnya di belanda. Setelah 5 tahun menempuh pendidikan kepegawaian, beliau menjadi juru tulis di kepatihan ngawi, dan iini hanya bertahan 3 tahun (1902-1905) karna dia merasa tidak cocokdengan pekerjaan pegawai negeri yang terus menerus harus merendah dihadapan orang belanda. Kemudian pergi ke Surabaya dan bekerja di salah satu perusahaan swasta yang bernama firma COY dan CO.selain bekerja beliau juga ikut kursus permesinan di malam hari dan setelah tamat dari kursus ini beliau pindah kerja jadi juru mesin dan kemudian tahun 1907-1912 menjadi ahli kimia di pabrik gula Rogojambi surabaya.

Sebagai seorang anak priyai, beliau di jodohkan oleh orang tuanya dengan soeharsiken, putrib seorang patih wakil bupati Ponorogo yang bernama mangoensoemo. Dirumahnya bersama istrinya beliau menerima kos kosan yang di kelola oleh istrinya dan salah satu anak kosnya adalah soekarno.

B. Perjuangan

Tepat hari ini lebih dari dua abad yang lalu, tepatnya pada tahun 1882, Haji Oemar Said Cokroaminoto lahir sebagai bakal tokoh pergerakan yang pada akhirnya dikenal sebagai pendiri Sarikat Islam, sebuah organisasi pergerakan yang berteguh prinsip pada kebangsaan dan agama. HOS Cokroaminoto sohor dengan kata mutiaranya yang sangat menginspirasi, “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat.”

Kalimat mutiara singkat itu pulalah yang berubah menjadi obat jiwa pergerakan pemuda saat itu, tidak terkecuali tiga murid beliau yang saling berbeda aliran dan akhirnya menjadi legenda pergerakan nasional: Soekarno yang nasionalis, Semaun yang Sosialis/komunis, dan Kartosoewirjo yang agamis.

Kata mutiara itu menggambarkan suasana perjuangan Indonesia yang saat itu membutuhkan tiga jiwa dan kemampuan pada diri seseorang untuk mempertahankan dan membangun negaranya Indonesia.

HOS Cokroaminoto tergabung pada SI pada bulan mei 1912 atas ajakan dari H. Samanhudi untuk memperkuat organisasi tersebut nama HOS Cokroaminoto terkenal setelah dia sukses menyelenggarakan kongres SI pertama di surabaya pada tgl 26 januari 1913. Dalam sebuah pertemuan di Yogyakarta pada tgl 18 Februari 1914, SI membentuk suatu pengurus pusat di mana HOS Cokroaminoto duduk sebagai ketua dan H. Samanhudi sebagai ketua kehormatan. Mulai tahhun 1916, partai ini sudah menggunakan istilah nasional dalam kongres-kongresyang diadakannya. Beliau segeera mengembangkan SI sebagai sebuah gerakan politik terbesar di Indonesia dengan menegakkan cita-cita nasionalisme dan Islam sebagai sebuah ajaran dasar pemikiran.

Pada kongres nasional pertama tahun 1916 di bandung, SI telah berani mengajukan tuntutan Indoneia merdeka yang merupakan inti aspirasi masyarakat Indonesia. Dalam kongras tersebut beliau berkata bahwa bangsa Indonesia mempunyai hak untuk berpastisipasi dalam hal politik. Beliau juga menuntut agar bangsa Indonesia juga ikut andil dalam memutuskan berbagai undang-undang dan peraturan yang dibuat oleh pemerintah. Selanjutnya pada kongres kedua tahun 1917 SI menyampaikan tuntutan untuk peningkatan pertanian, peningkatan subsisidi, dan perluasan hak pilih warga Indonesia. Kongres tersebut juga memutuskan bahwa SI akan duduk dalam Volkstraad (dewan rakyat)dengan tujuan akan terus berusaha untuk memperjuangkan mengubah Volkstraad menjadi parlemen sejati.

Pada tanggal 18 mei 1918 cokroaminoto dan Moeis duduk sebagaio dewan mewakili SI. Mereka menempatkan dirinya oposisi. Sempak terjang Cokroaminoto dan Moeis menyebabkan pemerintahan belanda menjadi gerah. Ketika terjadi beerbagai pemberontakan di tanah air kedua tokoh tersebut kemudian oleh pemerintah dianggap terlibat. Pada tahun 1920, Cokroaminoto dipenjarakan selama 8 bulan dan saat itu pula SI sebagai gerakan nasional mulai melemah.

C. Pemikiran

a. Pemikiran keagamaan

seperti halnya ahmad hasan dann para pembaharu lainya, cokroaminoto sangat menekan pentingya pemahaman tauhid secara benar. Keperibadian yangb tanguh, bebas dan dari rasa takut dan sedih akan di peroleh umat islam jika berpegang pada tauhid yang benar.selain itu, beliau juga menganjurkan agar umat islam tidak hanya berdebat dalam permasalahan furuq (cabag) saja, tetapi harus berkiprah dalam persoalan yanng lebih besar yang sedang di hadappi umat islam.

Menurutnya, sebegai agama yang rasional, moderndan memiliki landasan tauhid yang benar, maka penguasaan atas ilmu pengetahuan harus di gakakan, disamping menanamkan rasa ke islaman yang mendalam dan memberikan penghargaan terhadap tanda-tanda kebesaran tradisi islam.

b. Pemikiran politik

dalam bidang politik, cokroaminoto mempunyai pemikiran tentang negara demokrasi melalui perwakilan deparlement untuk memilih orang-orang yang memegang kekuasaan yang bebas dari penjajahan.

Agama islam merupakan alat yang tepat untuk membangun persatuan dan rasa nasionalisme di indonesia. Adapun fisi politik cokro aminoto adalah membentuk sosalialisme islam di mana bangunan ekonomi, sosialistik menjadi dasar kebijakannya tanpa ada monopoli, ribah, dan eksploitasi. Beliau mencita-citakan bangunana masyarakat yang berdasarkan persaudaraan, kemerdekaan dan persamaan namun tetap relijius dan cinta tanah air.

Pemikiran cokrominoto bisa kita temukan yaitu;

a. Islam dan sosialisme

b. Tarih agama Islam riwayat dan pemandangan atas kehidupan dan perjalana Muhammad SAW

c. Program asas dan progran tandimpartai serikat islam indponesia

d. Reglement umum bagi umat Islam Indonesia
»»  Baca Lengkap...

Selasa, 05 April 2011

JAMI’ATUL KHOIR DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Lahirnya beberapa organisasi Islam di Indonesia lebih banyak karena didorong oleh mulai tumbuhnya sikap patriotism dan rasa nasionalisme serta sebagai respons terhadap kepincangan–kepincangan yang ada di kalangan masyarakat Indonesia pada akhir abad ke 19 yang mengalami kemunduran total sebagai akibat ekploitasi politik pemerintah colonial Belanda. Langkah pertama diwujudkan dalam bentuk kesadaran berorganisasi.

Walaupun banyak berbagai cara yang di lakukan oleh Belanda dengan tujuan untuk membendung pergolakan rakyat Indonesia ekonomi, politik social dan terutama melalui media pendidikan islam namun mereka tidak membawa hasil yang memuaskan, malahan berakibat sebaliknya makin menumbuhkan kesadaran tokoh-tokoh organisasi islam bagaimana untuk melawan penjajah Belanda itu sendiri, dengan cara menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan rasa nasionalisme di kalangan rakyat dengan melalui pendidikan. Dengan sendirinya kesadaran berorganisasi yang dijiwai oleh perasaan nasionalisme yang tinggi, menimbulkan perkembangan dan era baru di lapangan pendidikan dan pengajaran. Dan dengan demikian lahirlah Perguruan-perguruan Nasional, yang di topang oleh usaha-usaha swasta (partikelir).

Dalam pembahaasan ini akan membahas sebuah organisasi social yang diddirikan di Jakarta tahun 17 Juli 1905. Organisasi ini terbuka untuk semua muslim tidak memandang asal-usul, tapi mayoritas anggotanya adalah orang Arab. Yang berperan besar dalam organisasi ini adalah para ulama asal Arab Hadramaut dan juga pemuda Alawiyyin, seperti Habib Abubakar bi Ali bin Abubakar bin Umar Shahab, Sayid Muhammad Al-Fakir Ibn. Abn. Al Rahman Al Mansyur, Idrus bin Ahmad Shahab, Ali bin Ahmad Shahab, Abubakar bin Abdullah Alatas, Muhammad bin Abdurrahman Shahab, Abubakar bin Muhammad Alhabsyi dan Syechan bin Ahmad Shahab. Di tangan ulama-ulama inilah Jamiatul Khair tumbuh pesat.

Organisasi social ini bergerak dalam dua bidang, yang pertama, pendirian dan pembinaan satu sekolah pada tingkat dasar , yang kedua mengirimkaan anak-anak ke turki untuk melanjutkan pendidikan. Sedangkan bidang kedua ini mempunyai sedikit hambatan yaitu karena kekurangan biaya dan kemunduran khilafat.

Dalam pembahasan makalah ini mungkin masah banyak kekurangan kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan.

1. JAMIATUR KHOIR

Jam;iat Khair adalah sebuah organisasi social yang ditekankan bergerak di bidang pendidikan. Jam;iat Khair pada awalnya bergerak di sekolah dasar. Sekolah dasar Jam;iat Khair bukan semata-mata mempelajari pengetahuan agama tetapi juga mempelajari pengetahuan umum lainnya seperti lazimnya suatu sekolah dasar biasa, misalnya berhitung , sejarah kebudayaan islam, ilmu bumi, bahasa inggris dan sebagainya. Kurikulum sekolah dan jenjang kelas-kelas telah disusun dan terorganisir dan bahasa pengantar yang dipergunakan untuk mengajar dan setiap harinya yaitu bahasa Indonesia dan bahasa melayu.

Untuk memenuhi tenaga guru yang berkualitas Jam’iat Khair mendatangkan guru-guru dari daerah sendiri ataupun daerah luar negri, salah satunya yaitu Haji Muhammad Mansyur (1907) seorang guru dari padang di minta untuk mengajar di sekolah Jam’iat Khair karena beliau berpengetahuan yang luas baik dalam bidang agama maupun bahasa terutama bahasa melayu. Dan al- Hasyimi di datingkan dari Tunisia sekitar tahun 1911 yang di samping mengajar juga memperkenalkan gerakan kepanduan dan olah raga di lingkungan sekolah Jam’iat Khair.

Pada bulan Desember 1923 (Jumadil Awal1342) didirikan gedung Jam’iat Khair di Tanah Abang yang mempunyai 8 lokal. Kemudian ditambah 2 lokal, sehingga menjadi 10 lokal.

Jam’iat Khair terdiri beberapa tingkat yaitu:

a. Tingkat Tahdiriah Lamanya 1tahun

b. Tingkat Ibtidaiyah Lamanya 6 tahun

c. Tingkat Tsanawiyah Lamanya 3 tahun

Mereka yang yang telah di anggap lulus dari Tsanawiyah dapat menyambung pelajarannya ke Mesir atu ke Mekah. Dan untuk zaman sekarang tinggal di tambah dengan bagian P.G.A. Pertama lamanya 4 tahun (Menurut rencana japenda), yang di terima masuk Tsanawiyah ialah murid-murid tamatan Ibtidaiyah dan yang diterima P.G.A. ialah murid-murid tamatan S.R.

Jamiatul Khair banyak mendatangkan surat kabar dan majalah dari Timur Tengah. Organisasi ini juga melakukan korespondensi (surat-menyurat) dengan tokoh-tokoh pergerakan dan surat kabar luar negeri. Dengan demikian kabar-kabar mengenai kekejaman penjajah Belanda di Indonesia dapat sampai ke dunia luar, antara lain karena melalui Jamiatul Khair. Snouck Hurgronje, seorang orientalis yang berperan besar dalam penaklukan Aceh, dengan terang-terangan bahkan menuding Jamiatul Khair membahayakan pemerintah Belanda. Melalui siswa-siswanya, Jamiatul Khair ikut berkontribusi dalam perjuangan membebaskan tanah air dari cengkeraman para penjajah serta melakukan syiar islam ke seluruh nusantara.

Salah seorang guru yang terkenal adalah Syaikh Ahmad Surokati dari sudan. Dia tampil sebagai tokoh pemikiran-pemikiran baru dalam masyarakat Islam Indonesia. Salah satu pemikirannya adalah bahwa tidak adanya perbedaan di antara sesame muslim. Kedudukan muslim adalah sama, baik keturunan, harta, ataupun pangkat beliau tidak menjadi penyebab adanya diskriminasi dalam islam. Pemikiran ini muncul setelah terjadi pertikaian di kalangan masyarakat Arab yang berkaitan dengan hak istimewa bagi kalangan sayyid( gelar yang di sandang bagi mereka yang memounyai garis keturunan dengan Nabi Muhammad SAW). Di antara yang diperdebatkan adalah larangan kawin bagi wanita sayyid dengan orang yang bukan keturunan sayyid. Bila bertemu dengan oaring sayyid, maka orang yang tidak dari keturunan sayyid, baik Arab atau orang Indonesia, harus mencium tangannya. Apabila tidak melakukannya, bisa menimbulkan pertikaian sehingga terjadi perpecahan di kalangan al-Jam’iat Khair.

Organisasi Pembaharuan Islam ini berkantor di daerah Pekojan di Tanjung Priok (Jakarta). Oleh karena perkembangannya dari waktu ke waktu semakin pesat, maka pusat organisasi ini dipindahkan dari Pekojan ke Jl. Karet, Tanah Abang. Organisasi ini dikenal banyak melahirkan tokoh-tokoh Islam, terdiri dari tokoh-tokoh gerakan pembaharuan agama Islam antara lain, Kyai Haji Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), HOS Tjokroaminoto (pendiri Syarikat Islam), H. Samanhudi (tokoh Sarekat Dagang Islam), dan H. Agus Salim. Bahkan beberapa tokoh perintis kemerdekaan juga merupakan anggota atau setidaknya mempunyai hubungan dekat dengan Jamiatul Khair.

Awalnya memusatkan usahanya pada pendidikan, namun kemudian memperluasnya dengan dakwah dan penerbitan surat kabar harian Utusan Hindia di bawah pimpinan Haji Umar Said Cokroaminoto (Maret 1913). Kegiatan organisasi juga meluas dengan mendirikan Panti Asuhan Piatu Daarul Aitam. Di Tanah Abang, Habib Abubakar bersama sejumlah Alawiyyin juga mendirikan sekolah untuk putra (aulad) di Jl. Karet dan putri (banat) di Jl. Kebon Melati serta cabang Jamiatul Khair di Tanah Tinggi Senen.

Pemimpin-pemimpin Jamiatul Khair mempunyai hubungan yang luas dengan luar negeri, terutama negeri-negeri Islam seperti Mesir dan Turki. Mereka mendatangkan majalah-majalah dan surat-surat kabar yang dapat membangkitkan nasionalisme Indonesia, seperti Al-Mu'ayat, Al-Liwa, Al-ittihad, dan lainnya. Tahun 1903 Jamiatul Khair mengajukan permohonan untuk diakui sebagai sebuah organisasi atau perkumpulan dan tahun 1905 permohonan itu dikabulkan oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan catatan tidak boleh membuka cabang-cabangnya di luar di Batavia.

2. KAMPUNG PAKOJAN

Sebelum ditetapkan sebagai kampung arab, daerah Pekojan dahulu dihuni oleh muslim Koja (Muslim India). Sampai kini masih terdapat Gang Koja, yang telah berganti nama menjadi Jalan Pengukiran II. Di sini terdapat sebuah Masjid kuno Al Anshor yang dibangun pada 1648 oleh para muslim India. Tak jauh dari tempat ini, kira-kira satu kilometer perjalanan, terdapat Masjid Kampung Baru yang dibangun pada pertengahan abad ke-18.

Di Pekojan masih banyak terdapat bangunan-bangunan peninggalan tempo dulu. Misalnya Masjid Langgar Tinggi, yang dibangun pada abad ke-18. Masjid ini telah diperluas oleh Syaikh Said Naum, seorang Kapiten arab. Ia memiliki beberapa kapal dagang dan tanah yang luas di Tanah Abang, yang sebagian telah diwakafkannya untuk tempat pemakaman. Di dekat Langgar Tinggi terdapat sebuah jembatan kecil yang dinamai Jembatan Kambing. Dinamakan demikian, karena sebelum dibawa untuk disembelih di pejagalan (sekarang bernama Jalan Pejagalan), kambing harus melewati jembatan yang melintasi Kali Angke ini terlebih dahulu. Para pedagang di sini telah berdagang secara turun-temurun selama hampir 200 tahun.

Terdapat juga Masjid An Nawier, yang merupakan tempat ibadah yang terbesar di Pekojan. Masjid ini pada tahun 1920 diperluas oleh Habib Abdullah bin Husein Alaydrus, seorang kaya raya yang namanya diabadikan menjadi Jalan Alaydrus, di sebelah kanan Jalan Gajahmada. Pendiri Masjid ini adalah Habib Utsman bin Abdullah bin Yahya.

Di dekat Masjid An Nawier, terdapat Az Zawiyah, sebuah bangunan untuk ibadah dan pendidikan islam yang didirikan oleh Habib Ahmad bin Hamzah Alatas, seorang ulama asal Hadhramaut. Beliau juga merupakan guru dari Habib Abdullah bin Muhsin Alatas, seorang ulama besar yang kemudian berdakwah di daerah Bogor.

Banyak tokoh-tokoh besar yang berasal dan memiliki kaitan sejarah dengan kampung Pekojan. Di antaranya adalah Habib Utsman bin Abdullah bin Yahya yang pernah menjabat sebagai mufti di Betawi. Juga Habib Ali bin Abdul Rahman Al Habsyi, pendiri majlis taklim Kwitang yang sempat belajar pada Habib Utsman di Pekojan. Ada juga seorang ulama besar asli kelahiran Pekojan yang merupakan guru dari syaikh Nawawi Al Bantani. Beliau adalah syaikh Junaid Al Batawi yang sampai akhir hayatnya menjadi guru dan imam di Masjidil Haram. Syaikh Junaid Al Batawi juga diakui sebagai Syaikhul Masyayikh (Mahaguru) dari ulama-ulama madzhab Syafi'i mancanegara pada abad ke-18. beliau pulalah yang pertama kali memperkenalkan nama Betawi di luar Indonesia.
»»  Baca Lengkap...

Minggu, 03 April 2011

KEHIDUPAN PEMUDA DI DESA YANG TIDAK MELANJUTKAN JENJANG MAHASISWA(Sejarah Lesan)


Oleh:
Mahmud Adibil Mukhtar


            Pada zaman sekarang ini banyak sekali pemuda yang hidup didesa yang kurang peduli dengan informasi luar. Mereka bukan tidak mampu tapi memang mereka suka dengan kehidupannya. Mereka seakan akan tidak peduli dengan luar karena cukup bangga dengan apa yang dimilikinya. Tentang penglihatanku sekilas mereka senang dengan hura-hura semu dengan temannya senasib dan sepermainan. Seakan-akan hari-harinya begitu cepat dilaluinya. Mereka seakan akan tidak peduli dengan kegilasnya waktu yang terus menghantuinya. Tapi dibalik hura-huranya ketidak pekaan mereka terhadap berita senang berhura-hura tetapi kadang ada yang rajin beribadah tapi tetap ada yang melenceng seperti keboborokan mental. Pera pemuda rata-rata tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi setelah saya amat-amati kebanyakan karena unsur dana mereka beranggapan bahwasanya biaya kuliah sangat mahal, kehidupan mahal dan lain-lain. Tapi ada juga yang memang malas kuliah, enak bersenang-senang daripada dibuat mikir yang belum jelas juga efeknya. Padahal orang tua mereka kalau pandangan sekilasku cukup mampu.
            Akhirnya pada suatu saat berinsiatif untuk bertanya benarkah dugaanku itu aku mengambul seorang yang orang tuanya cukup mampu mengapa dia tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Kebetulan orang yang saya tanyai namanya Sardi. Saya bertanya cukup lama pada saat itu kami berbincang bincang- bincang dan menguak masalah itu. Sebenarnya saya juga merasa tidak enak karena saya mahasiswa. Tapi yang saya ajak bicara mengerti dan paham dengan saya.
            Hasil yang saya terima dari perbincangan yang lama ternyata dia tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dikarenakan ingin bisa cepat bekerja untuk berpengalaman. Seboyan dia ternyata sangat mulia yang berbunyi “kalau kuliah niatnya untuk belajar mas, tapi orang seperti saya tidak perlu diatas bangku langsung praktek aja saya ingin menjadi busines seperti pemilik pabrik maspion mas, paling  ndak mendekatilah” dia berkata gitu sambil tersenyum manis. Jadi dia langsung praktek dan suka dengan semboyan pengalaman adalah guru yang paling baik. Dia juga ingin di rumah sambil membantu orang tua jadi tidak Cuma bersenang-senang saja. “Walaupun juga bersenang-senang juga, manusia juga butuh hiburan mas” kata dia. Jadi kehidupan dia bekerja dan berkerja. Terus saya bertanya lagi “terus kamu bersenang-senang itu mempunyai tujuan pa ndak?” dia menjawab “wah pnya lah mas, apa kita hidup Cuma untuk bekerja kan tidak butuh hiburan saya rasa semua manusia butuh hiburan, bukan begitu? Saya mengeleng-geleng saja. Dia berkata lagi “saya selain bersenang senang mempunyai misi khusus mas, saya ingin mempunyai teman yang banyak yang nantinya bisa aku ajak bekerja sama mas” kata dia. Terus saya bertanya ”wah kamu benar-benar ingin bisnis di desa ya ternyata?”. Dia menjawab “ wah iya mas saya ingin persiapkan sejak sekarang, saya kira semua ini belum terlambat ya mas?”. Saya menjawab “ wah benar itu, dalam kehidupan tidak ada kata terlambat untuk berjuang, wah tapi hebat ya sudah memikirkan ssedetail itu, la rencana kamu mau bisnis apa nich?”. Kemudian dia memjawab “wah terima kasih mas, sebenarnya saya pengen sapi perah mas ta pi langkaah awal saya cukupn memelihara sapi biasa dulu entar saya belikan sapi perah dan kemudian saya ingin berdagang susu segar dengan teman- temanku mas?”. Saya berkata” wah hebat-hebat semoga kumu sukses dan tercapi cita-citami ya? Amiin..”.
            Itu tadi adalah percakapanku dengan seorang pejuang untuk mencukupi hidupnya dengan bussines. Kesimpulanku adalah bahwasannya tidak semua pemuda mempunyai tujian yang jelek di desa mereka berjuang walaupun tidak dengan pena. Mereka mampu mengungkapkan yang demikian itu karena mereka yakin dengan keadaanya. Mereka yakin bisa menngubah dirinya dengan caranya bahkan mampu mengubah bangsa dengan caranya. Saya tetap tidak bisa berpikiran sempit dengan pandangan sekilas.
            Seharusnya pemuda memang begitu pikiran sempitku membuka jalan utuk bertanya dan memberanikan diri. Dia telah membukakan hatiku, supanya lebih baik. Dan kehidupan memeng keras. Saya teringat dengan pepatah “kalau dkita lemah pada dunia maka dunia akan keras pada kita dan apabila kita keras pada dunia maka dunia akan lemah pada kita. Pepatah itu menganjurkan supaya kita senang bekerja keras dan berfikir supaya tidak menyesal nantinya.
            Mungkin ini saja tentang uraian tentang kehidupan salah satu pemuda desa. Tidak semua yang buruk itu buruk semua dan tidak semua yang baik itu baik semua. Mungkin banyak sekali kekurangan dari hasil interfiu saya kritik dan saran yang membangun sangat saya nantikan. Terima kasih
           
»»  Baca Lengkap...